Esai: Menyikapi Isu
https://kamwillampung.blogspot.com/2015/03/esai-menyikapi-isu.html
Menyikapi
Isu *
Oleh:
Ahmad Risani **
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya,
sesungguhnya pendengaran, penglihatan, hati, semuanya akan diminta
pertanggungjawabnya.” (Qs.
Al-isroo’: 36)
Era informasi supercepat saat ini, semakin
memperluas dimensi ruang kehidupan umat manusia, sekaligus mempersingkat jarak
antar ruang tersebut. Seolah tak ada lagi jarak antara satu dengan lainnya. Ia
menembus ruang-ruang kedap dan memperluasnya hingga ke sudut-sudut terkecil sekalipun. Dunia semakin luas, tapi sangat singkat untuk
dijelajahi.
Keluasan wilayah dan keleluasaan jelajah
inilah yang kemudian menawarkan opsi-opsi dalam kehidupan kita. Opsi-opsi yang
kerap membingungkan, lantaran membanjirnya informasi-informasi yang sarat
argumentasi yang tersaji. Opsi-opsi inilah yang kelak akan menentukan ke arah
mana keberpihakan kita. Mulai dari Keberpihakan yang paling “kendor”
(simpatisan) hingga yang paling “kencang” (pendukung setia).
Dalam konteks Gerakan, Menyikapi isu atau opini
publik yang sedang berkembang di masyarakat merupakan hal yang prinsip. Karena
berkaitan dengan sensitifitas organisasi gerakan. Penyikapan tersebut muncul
dari hasil pembacaan dan pengkajian baik oleh individu ataupun organisasi, dan
pada akhirnya akan bermuara pada sebuah kesimpulan kolektif atau hanya
individu.
Media
dan Hagemoni
Keberpihakan terhadap isu atau opini publik
tersebut tidak lepas dari sejauhmana person-person
tersebut menerima informasi, kedalamannya, serta tingkat kedewasaan
psikologisnya. Dengan demikian, perlu adanya kesigapan kolektif oleh organisasi
gerakan maupun individu dalam menakar dan menimbang informasi dan sajian data
yang terpapar dihadapannya.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa media-media
kita saat ini - sejak bergulirnya demokratisasi pasca reformasi – semakin
“liar” dalam membangun opini publik. Kondisi ini adalah realitas yang mesti
dihadapi secara cerdas, bukan sesuatu yang mesti dipandang dengan sisnisme yang
mengedepankan ego. Karena setiap media juga memiliki standar keidealan
wacananya sendiri. Inilah yang kemudian kita sebut sebagai pembangun arus utama
(mainstream). Mainstream yang kerap
menjadi trendsetter cara berfikir
masyarakat. Media lainnya yang berseberangan pendapat tidak akan membiarkan
wacana yang beredar begitu saja menjadi konsumsi publik. Jika ada stereotype pasti akan berhadapan dengan countertype.
Berhadapan dengan artikel berita, opini, dan
statemen-statemen dari para pakar - kerap menyajikan
rasionalisasi-rasionalisasi yang berasaskan pada ideologi media pengusung.
Seringkali kita dihadapkan pada sebuah isu, misalnya tentang islam, ada media
yang anti-islam kemudian dengan wacana-wacananya ia membangun stigma negatif
tentang islam, kemudian bagi media yang islamis, stigma tersebut mesti dilawan
dengan menghadirkan wacana-wacana yang lurus dan berimbang. Tak hanya itu,
media sebagai senjata ideologi akan berusaha membangun masyarakat yang
terideologisasi secara tandzimi (senyap).
Pada akhirnya terbentuklah masyarakat yang hagemonik,
yang dipengaruhi oleh arus opini/wacana yang beredar.
Upaya hagemonik ini tidak melulu bertendensi
negatif, ada banyak yang bersifat
positif dan produktif terhadap pembangunan, misalnya membangun wacana wajib belajar, partisipasi
politik dalam demokrasi, program pembangunan desa, dan sebagainya. Namun, lepas
dari itu, organisasi gerakan mesti sigap menyikapi isu-isu yang bersifat
politis dan berkenaan dengan kebijakan publik, agar tidak terjebak dalam
pusaran propaganda yang justru mematikan gerakan.
Membentuk
narasi, membangun aliansi
Sejak bergulinya zaman media sosial dan arus
pencitraan politik yang semakin getol, Gerakan sering dihadapkan pada
pilihan-pilihan yang sulit dalam menyikapi sebuah isu publik. Organisasi
gerakan kerap terjebak dalam aksi-aksi protes yang tidak berisi, disatu sisi
kerap diam lantaran termakan rasionaliasi-rasionalisasi para buzzer, ujungnya-ujungnya karena
keseringan “memakan” rasionalisasi, lambatlaun menumpulkan daya kritis gerakan.
Gerakan mahasiswa, dalam menghadapi isu dan
memberikan sikap politik acap tidak didukung oleh mayarakat secara utuh.
Persoalan utamanya terletak dari cara mahasiswa membentuk countertype atau argumentasi tandingan untuk mempengaruhi rakyat.
Budaya reaksioner yang tanpa kajian mendalam menjadi gaya kerja GM di sebagian
wilayah di Indonesia. Belum lagi cara GM yang kerap anarkis cenderung membuat
masyarakat antipati terhadap upaya gerakan mahasiswa, sehingga menjadikan
rakyat apatis. Sudah semestinya gerakan mahasiswa merambah dunia literasi dan
media; menulis opini, esai, atau artikel yang tentunya berkenaan dengan
kegelisahan dan keresahan gerakan yang tengah dihadapi.
Ketika menerima informasi yang bernuansa
kebijakan publik, yang perlu dilakukan selanjutnya ialah membangun konstruksi
opini dari beragam sumber media yang berlawanan - tentu tidak sulit di era
sekarang ini untuk menentukan media-media mana yang saling berlawanan -
sehingga akan terbangun konstruksi
informasi yang berimbang (meskipun tidak mutlak).
Setelah itu, perlu adanya aliansi antar
gerakan, diskusi-diskusi antar gerakan, ini untuk menunjang dukungan dan basis
gerakan yang masiv antar elemen, kesatuan gerakan dalam mengahadapi isu sentral
adalah kekuatan inti dalam menyikapi isu, tentu kita tetap ingat sejarah aliansi gerakan mahasiswa ’98 yang begitu
kokoh.
Kemudian, setelah terbangun aliansi yang
masif dan mapan kajian. Upaya selanjutnya yaitu membangun basis dukungan
masyarakat dengan membentuk opini lewat media-media sosial, media arus utama
yang “sepemikiran” dan kampanye-kampanye ke lapangan. Baru setelah itu: Aksi.
Aksi adalah jalan terakhir dalam memenangkan gerakan.
Menyikapi isu merupakan keniscayaan bagi organisasi
gerakan. Sikap pasif dan polos dalam meyikapinya adalah kematian bagi gerakan
itu sendiri. Semoga kita tetap melek dalam menjaga gerakan yang tetap cerdas,
responsif, dan solutif.[]
***********
* Esai
disajikan di sekolah politik BEM FKIP Unila 8 Maret 2015 materi “Analisis Isu”
**
Gubernur FKIP Unila ‘13-14, Kepala Kebijakan Publik PD KAMMI BandarLampung, FB:
Ahmad Risani, Twitter: @RisaniAhmad, BBM: 75A48A6F
