TIDAK MENCINTAI KAMMI, TAPI...
https://kamwillampung.blogspot.com/2015/03/tidak-mencintai-kammi-tapi.html
TIDAK
MENCINTAI KAMMI, TAPI...
Ahmad Risani*
Dalam prinsip kemanusiaan, mencintai dan rasa
memiliki adalah salah satu sisi hidup manusia normal. Rasa memiliki juga punya
banyak cabangnya, ia tak mungkin hanya tertuju pada satu benda, zat, makhluk,
atau apalah - sesuatu yang bisa dimiliki. Sehingga tidak heran ketika Allah
menciptakan cinta dan hasrat memiliki, ia juga menciptakan kecemburuan untuk
mengimbanginya. Ini titik equiblirium
dalam kehidupan, jika ada siang maka ada malam, jika ada tesis maka ada
antitesa, ada cinta tentu ada benci, dan seterusnya.. dan seterusnya.
Dalam konteks gerakan ke-KAMMI-an, kita tentu
memiliki ukuran tersendiri dalam mencintai KAMMI, ada batasan minimum dalam
menentukan keterlibatan dan hasrat memilikinya. Batasan ini tentu bukan batas
untuk mencintai KAMMI, bukan. Tapi ia hanya standar minimun, dan persoalan
standar ini hanya kadernya sajalah yang tau. Jika kita tengok secara kompleks,
mencintai KAMMI tentu akan melibatkan banyak sisi-sisi penilaian, ada yang
bilang hafal visi-misi saja cukup, atau aktif ikut diskusi, atau sekedar nebeng aksi bersama-sama, atau bisa juga
terlibat penuh dalam ragam kegiatan dan agenda yang dilakukan KAMMI, dan
sebagainya. Namun, apakah hanya sebentuk itulah cara untuk mencintai atau
memiliki KAMMI?. Tentu tidak. Sekali lagi, hanya kaderlah yang tau sebesar apa
standar untuk mencintai organisasi yang sedang sweet seventeen ini.
Bicara tentang ini, saya teringat salah satu tulisan
kader KAMMI yang bertajuk “Mencintai
KAMMI dengan Sederhana” di jurnal Kultural beberapa waktu lalu.
Bisa jadi tajuk ini menjadi sebuah oase atas pertanyaan-pertanyaan besar
mengenai bagaimana mencintai KAMMI. Ia menyederhanakan, tapi melegakan.
Maksudnya tak usah muluk-muluk. Ia cukup dengan sederhana, tapi semampu kita. Dengan
begitu kader akan menjadi lega. Tak dituntut yang lebih-lebih, tapi semampu
dia.
Soal cinta, kita akan dihadapkan pada pertanyaan
klasik yang biasa kita dengar dijalanan, semisal, bagaimana bentuknya?. Seperti
apa contohnya?. Seluas atau sedalam lautankah?. Atau semahal mutiarakah?.
Pertanyaan-pertanyaan ini yang acap meluruhkan jiwa, ia di hantui ragam
pertanyaan dan “ancaman” yang tidak “mengenakkan”. Penuh tuntutan. Pada
akhirnya kader melemah, karena tidak bisa memenuhi standar mencintai yang terlanjur
menjadi batas.
Menjadi
KAMMI itu sendiri
Pepatah mengatakan, jika kau ingin mencintai sesuatu itu dengan tulus, maka cintailah ia
seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Dalam prinsip “kemanunggalan”,
menjadi “sesuatu” adalah tingkatan tertinggi dalam mencintai “sesuatu itu”. Dalam
prinsip ini pula, seorang rela berkorban dan mati demi yang ia cintai itu,
sepertihalnya ia rela berkorban dan mati demi dirinya sendiri. Namun, prinsip
ini tentu memiliki kerancuan jika kita jadikan fondasi dalam mencintai KAMMI.
Cukuplah teologi inna sholaatiy
wanusukiiy wamahyaaya wamamatiiy lillahi robbil’aalamiin menjadi
pijakannya.
Mengapa begitu?. Karena kita menyadari, bahwa
sebagai gerakan dakwah progressif, KAMMI memiliki misi dan cita-cita besar
dalam memenangkan islam – seperti yang dicontohkan Rasululloh dan para
penerusnya. Di satu sisi sebagai gerakan mahasiswa, ia punya misi ke-indonesia-an
yang mesti dituntaskan setelah dimulai oleh para founding fathers bangsa ini.
Secara otomatis, kita akan menemukan sebuah simpulan sederhana bahwa:
Mencintai KAMMI adalah mencintai Islam dan Indonesia.
Dengan begitu, apa yang kita lakukan untuk KAMMI
hanyalah sebuah ekspresi cinta pada yang lain. KAMMI bukanlah sekedar objek
untuk dicintai, tapi ia justru menjadi subjek untuk mencintai. Untuk mencintai
sesuatu yang lebih prinsip dalam kehidupan kita sebagai Muslim dan sebagai Indonesia.
Tentu, Agar tak menjadi bias penghambaan yang “mencemburukan”, maka mencintai
KAMMI mesti berlandaskan cinta pada Allah. Lalu, terejawantahkan dalam sebuah bentuk
gerak yang kita sebut: dakwah.
Pada akhirnya, sebentuk ekspresi cinta kita kepada
KAMMI adalah gambaran utuh seberapa besar cinta kita pada Islam dan Indonesia.
Karena sebetulnya, kita tidak sedang mencintai KAMMI, tapi mencintai sesuatu
yang lain, yang lebih besar dan tinggi: Islam dan tanah tumpah darah Indonesia.[]
#KAMM17UARA
#MILADKAMMI #KAMMIUntukIndonesia
*Kader KAMMI, pengrajin
di kompasiana.com/ahmadrisani
