TIDAK MENCINTAI KAMMI, TAPI...

TIDAK MENCINTAI KAMMI, TAPI...
Ahmad Risani*

Dalam prinsip kemanusiaan, mencintai dan rasa memiliki adalah salah satu sisi hidup manusia normal. Rasa memiliki juga punya banyak cabangnya, ia tak mungkin hanya tertuju pada satu benda, zat, makhluk, atau apalah - sesuatu yang bisa dimiliki. Sehingga tidak heran ketika Allah menciptakan cinta dan hasrat memiliki, ia juga menciptakan kecemburuan untuk mengimbanginya. Ini titik equiblirium dalam kehidupan, jika ada siang maka ada malam, jika ada tesis maka ada antitesa, ada cinta tentu ada benci, dan seterusnya..  dan seterusnya.

Dalam konteks gerakan ke-KAMMI-an, kita tentu memiliki ukuran tersendiri dalam mencintai KAMMI, ada batasan minimum dalam menentukan keterlibatan dan hasrat memilikinya. Batasan ini tentu bukan batas untuk mencintai KAMMI, bukan. Tapi ia hanya standar minimun, dan persoalan standar ini hanya kadernya sajalah yang tau. Jika kita tengok secara kompleks, mencintai KAMMI tentu akan melibatkan banyak sisi-sisi penilaian, ada yang bilang hafal visi-misi saja cukup, atau aktif ikut diskusi, atau sekedar nebeng aksi bersama-sama, atau bisa juga terlibat penuh dalam ragam kegiatan dan agenda yang dilakukan KAMMI, dan sebagainya. Namun, apakah hanya sebentuk itulah cara untuk mencintai atau memiliki KAMMI?. Tentu tidak. Sekali lagi, hanya kaderlah yang tau sebesar apa standar untuk mencintai organisasi yang sedang sweet seventeen ini.

Bicara tentang ini, saya teringat salah satu tulisan kader KAMMI yang bertajuk “Mencintai KAMMI dengan Sederhana” di jurnal Kultural beberapa waktu lalu.  Bisa jadi tajuk ini menjadi sebuah oase atas pertanyaan-pertanyaan besar mengenai bagaimana mencintai KAMMI. Ia menyederhanakan, tapi melegakan. Maksudnya tak usah muluk-muluk. Ia cukup dengan sederhana, tapi semampu kita. Dengan begitu kader akan menjadi lega. Tak dituntut yang lebih-lebih, tapi semampu dia.

Soal cinta, kita akan dihadapkan pada pertanyaan klasik yang biasa kita dengar dijalanan, semisal, bagaimana bentuknya?. Seperti apa contohnya?. Seluas atau sedalam lautankah?. Atau semahal mutiarakah?. Pertanyaan-pertanyaan ini yang acap meluruhkan jiwa, ia di hantui ragam pertanyaan dan “ancaman” yang tidak “mengenakkan”. Penuh tuntutan. Pada akhirnya kader melemah, karena tidak bisa memenuhi standar mencintai yang terlanjur menjadi batas.

Menjadi KAMMI itu sendiri

Pepatah mengatakan, jika kau ingin mencintai sesuatu itu dengan tulus, maka cintailah ia seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Dalam prinsip “kemanunggalan”, menjadi “sesuatu” adalah tingkatan tertinggi dalam mencintai “sesuatu itu”. Dalam prinsip ini pula, seorang rela berkorban dan mati demi yang ia cintai itu, sepertihalnya ia rela berkorban dan mati demi dirinya sendiri. Namun, prinsip ini tentu memiliki kerancuan jika kita jadikan fondasi dalam mencintai KAMMI. Cukuplah teologi inna sholaatiy wanusukiiy wamahyaaya wamamatiiy lillahi robbil’aalamiin menjadi pijakannya.

Mengapa begitu?. Karena kita menyadari, bahwa sebagai gerakan dakwah progressif, KAMMI memiliki misi dan cita-cita besar dalam memenangkan islam – seperti yang dicontohkan Rasululloh dan para penerusnya. Di satu sisi sebagai gerakan mahasiswa, ia punya misi ke-indonesia-an yang mesti dituntaskan setelah dimulai oleh para founding fathers bangsa ini.  Secara otomatis, kita akan menemukan sebuah simpulan sederhana bahwa: Mencintai KAMMI adalah mencintai Islam dan Indonesia.

Dengan begitu, apa yang kita lakukan untuk KAMMI hanyalah sebuah ekspresi cinta pada yang lain. KAMMI bukanlah sekedar objek untuk dicintai, tapi ia justru menjadi subjek untuk mencintai. Untuk mencintai sesuatu yang lebih prinsip dalam kehidupan kita sebagai Muslim dan sebagai Indonesia. Tentu, Agar tak menjadi bias penghambaan yang “mencemburukan”, maka mencintai KAMMI mesti berlandaskan cinta pada Allah. Lalu, terejawantahkan dalam sebuah bentuk gerak yang kita sebut: dakwah.

Pada akhirnya, sebentuk ekspresi cinta kita kepada KAMMI adalah gambaran utuh seberapa besar cinta kita pada Islam dan Indonesia. Karena sebetulnya, kita tidak sedang mencintai KAMMI, tapi mencintai sesuatu yang lain, yang lebih besar dan tinggi: Islam dan tanah tumpah darah Indonesia.[]



#KAMM17UARA #MILADKAMMI #KAMMIUntukIndonesia


*Kader KAMMI, pengrajin di kompasiana.com/ahmadrisani

Related

Opini 9017757678483254456

Berikan Komentar Disini

emo-but-icon

Follow Us

Total Tayangan Halaman

Ketum KAMMI Wilayah Lampung

Ketum KAMMI Wilayah Lampung

Gabung KAMMI

Gabung KAMMI

News

Comments

Recent

Sports

Kuliner

Berita Kampus

Daerah Daerah

Explore Lampung

Instagram

Text Widget

item