LAWAN!.
https://kamwillampung.blogspot.com/2015/04/diskusi-progessif-kammi-iain-ril.html
LAWAN!.
Ahmad Risani*
Situasi
sosial-politik yang tidak menentu saat ini, memberikan sinyal kuat bahwa
evaluasi besar-besaran mesti dilakukan. Evaluasi ini bukan hanya soal
memperbaiki, tapi ia memperbaharui. Dan tugas semacam ini adalah urusan para
pengusung idealisme, ia adalah rakyat kaum intelektual pembaharu. Bersama
Rakyat semesta, sudah saatnya mahasiswa kembali seperti dulu, bicara yang
lantang dijalanan.
Kita
menyadari bahwa gerakan mahasiswa hari ini bukanlah mereka yang sama seperti ‘98,
tapi mereka adalah penerima kearifan sejarah pendahulu. Kita juga bukan
berhadapan dengan lawan yang sama, tetapi kita punya cara yang (mungkin) bisa
sama untuk menyudahi kekacauan-kekacauan ini. Sekali lagi, hanya mahasiswa
bersama rakyatlah yang siap untuk menyudahi masalah-masalah ini.
Seruan-seruan
semacam ini, bukanlah hal baru, apalagi mengada-ada. Seruan-seruan ini
sabanhari terdengar dilingkungan masyarakat kita. Baik itu lewat obrol
warungkopi atau sekedar curhat di FB dan twitter. Secara umum, masyarakat kita
sudah mulai muak dengan kegaduhan-kegaduhan politik dan ekonomi yang sedang
melanda. Kekecewaan bertebaran dimana-mana. Dan.. yang paling terpenting,
masyarakat sudah mulai objektif menilai kinerja pemerintahan hari ini, tidak
lagi terkunci pada “cinta buta” yang mematikan nalar kritis. Kondisi seperti
ini bisa dijadikan momentum yang tepat untuk “menyudahi” Jokowi.
Konsolidasi
gerakan adalah agenda pertama untuk mengulang kembali misi itu. Selanjutnya menjadi
konsolidasi rakyat semesta. Agenda menyudahi Jokowi ini adalah wacana sekaligus
agenda penyelamatan negara. Ia disebut sebagai wacana, karena sudah hampir
dipastikan semua rakyat memikirkan hal yang sama untuk “menyudahi” Jokowi. Ini
bukan simpulan reaksioner, tapi ini adalah simpulan kritis atas fenomena yang
terjadi di lapangan, bahwa rakyat menginginkan suatu “bentuk” sikap politik
yang sudah sangat amat dirindukan, sudah sangat amat dinantikan, sudah sangat
amat diharapkan, bentuk itu adalah sebuah: Perlawanan!.
Sekilas tantang kekacauan
“Enam bulan perjalanan pemerintahan
Jokowi-Jk, sedikit banyak menjadi alasan tunggal bahwa butuh waktu untuk
mengurusi negeri ini. Namun apalah mau dikata, alih-alih kemajuan, justru saat ini
kita sedang mengalami kemunduran sistemik. Masih terngiang ditelinga kita betapa
lemahnya pemerintah menyikapi naik-turunnya harga minyak bumi dunia. Tampak
sekali tidak ada perencanaan ekonomi jangka panjang. Ketidakbecusan pemerintah
dalam mengukur perencanaan ekonomi jangka panjang ini berpengaruh banyak
terhadap harga-harga bahan pokok dan sektor mikro lainnya. Menyerahkan harga
pada pasar dan pencabutan subsidi BBM menjadi bukti bahwa pemerintah sudah tak
kuasa lagi mengurus rakyat. Ketidakberdayaan ini kembali ditandai naiknya
beragam sektor fundamental, semisal harga tarif dasar listrik, gas LPG, dan sektor
tansportasi, yang selanjutnya memberi efek domino bagi daya ekonomi masyarakat
kita. Intinya, kebijakan ekonomi kapitalis-liberalis ini semakin megokohkan
kuasa asing dalam mencengkram sumberdaya di bumi Indonesia ini. Kita kembali
terjajah.”
“Melemahnya rupiah, lagi-lagi menjadi
palu godam yang paling mematikan dan memberikan alasan kuat bahwa baik secara
makro dan mikro, pemerintah tidak memiliki masterplan jangka panjang, sekaligus
membuktikan secara tegas bahwa aktivitas ekonomi global kita sama sekali tidak
kompetitif dalam persaingan dunia.”
“Disisi lain, secara birokratis, baru-baru
ini kita banyak dihadapkan pada masalah-masalah lain yang semestinya tidak
perlu terjadi untuk ukuran pemerintahan negara. Birokrasi yang saling lempar
tanggungjawab dan saling menyalahkan. Belum lagi kita tidak menemukan role
model and grand design yang mapan dari beberapa kementerian dalam merumuskan
kebijakan kerakyatan. Mereka masih sibuk untuk ikut-ikutan pencitraan dan..
sekali lagi saling tunjuk siapa yang salah.”
“Penegakkan hukum masih seperti yang
dulu, bentrokan KPK dan Polri sedikit mengindikasi bahwa pemerintah tak kuasa
menegakkan hukum dan disiplin birokrasi. Seolah tak berdaya mengambil sikap
tegas. Hukum dan birokrasi seolah menjadi panggung komedi menggelikan yang
dibuat-buat. Bahkan hingga hari inipun banyak diantara kita belum mengerti
motif dari kekisruhan hukum-birokrasi ini."
“Di sektor lainnya, baru-baru ini, beberapa
situs islam diblokir. Motif dari tindakan ini bukan hanya soal demokrasi,
tetapi lebih ke masalah prinsip: mengurangi pengaruh islam dalam membentuk
opini publik.”
Jika
dedahkan satu persatu problema pemerintahan Jokowi-Jk saat ini, maka tak cukup
selembar dua lembar esai untuk mengemukakannya, untuk selanjutnya kita akan
lebih banyak bicara tentang sikap gerakan kedepannya.
Konsolidasi Gerakan
Mengingat
kembali reformasi ’98 hanya akan memberikan beban sejarah yang memberatkan bagi
aktivis gerakan hari ini. Seolah kita “digoda” untuk kembali mengulang sejarah.
Obsesi ini bisa menjadi sebuah sinyal positif bahwa gerakan mahasiswa akan
kembali hidup. Namun disisi lain akan menjadi sinyal negatif jika tidak
disertai kemampuan analisis isu dan seni menghimpun aliansi. Saat ini gerakan
kita masih berkutat pada gerakan spontanitas, bergerak refleks menanggapi isu.
Bahkan acap terjebak pada agenda-agenda protes yang dangkal kajian dan minim
dukungan.
Gerakan
mahasiswa mesti objektif menilai dirinya. Bukan justru menyalahkan masyarakat
yang berada di luar gerakan, lalu kemudian menyebut mereka apatis. Jika kita
menghendaki reformasi kembali, maka kita mesti menyadari bahwa reformasi tidak
direncanakan dalam tempo yang singkat dan sempit. Agenda reformasi adalah agenda
yang terencana secara sistematis dan bukan hasil respon spontan. Oleh kerana
itu dibutuhkan persiapan yang matang dan aliansi yang masif dalam memenangkan
opini publik.
Konsolidasi
internal adalah langkah pertama untuk mengulang kembali sejarah. menghimpun
kekuatan antar organisasi gerakan adalah kunci, sehingga untuk membuka kunci
tersebut perlu adanya rekonsiliasi (keterbukaan) antar elemen gerakan. Selagi
tidak ada kepentingan pragmatis didalamnya, maka aliansi gerakan akan masif.
Keberlanjutan
dari “konsolidasi internal gerakan” ialah konsolidasi rakyat. Aliansi
kerakyatan. Gerakan ini didukung oleh ragam masyarakat yang berasal dari setiap
elemen. Dengan tujuan yang sama: reformasi!.
Dalam
menghimpun kekuatan massa aliansi rakyat ini, dibutuhkan dukungan media yang
berpihak pada gerakan, saat ini sangat minim dukungan yang diberikan kepada
aktivitas gerakan. Aksi-aksi yang mahasiswa gelar kerap terlewatkan di layar
kaca dan media mainstream lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak sepenuhnya para pemilik modal, oposisi,
akademisi, dan para pemangku kepentingan menginginkan format reformasi seperti
yang mahasiswa cita-citakan. Untuk itu, gerakan mesti menyadari bahwa kita saat
ini sedang bertarung sendiri. Di satu sisi kita belum berhasil menghimpun
rakyat - Bisa jadi ini karena arus media yang kerap merasionalisasi
(pembenaran) kesalahan-kesalahan pemerintah. Di posisi lain, “elit yang berseberangan” dengan pemerintah
masih “menikmati permainan” yang sedang berlangsung.
Media dan Hagemoni
Keberpihakan
terhadap isu atau opini publik tersebut tidak lepas dari sejauhmana person-person tersebut menerima
informasi, kedalamannya, serta tingkat kedewasaan psikologisnya. Dengan
demikian, perlu adanya kesigapan kolektif oleh organisasi gerakan maupun
individu dalam menakar dan menimbang informasi dan sajian data yang terpapar
dihadapannya.
Tidak
dapat dipungkiri, bahwa media-media kita saat ini - sejak bergulirnya
demokratisasi pasca reformasi – semakin “liar” dalam membangun opini publik.
Kondisi ini adalah realitas yang mesti dihadapi secara cerdas, bukan sesuatu
yang mesti dipandang dengan sisnisme yang mengedepankan ego. Karena setiap
media juga memiliki standar keidealan wacananya senidri. Inilah yang kemudian
kita sebut sebagai pembangun arus utama (mainstream). Mainstream yang kerap menjadi trendsetter
cara berfikir masyarakat. Media lainnya yang berseberangan pendapat tidak akan
membiarkan wacana yang beredar begitu saja menjadi konsumsi publik. Jika ada stereotype pasti akan berhadapan dengan countertype.
Berhadapan
dengan artikel berita, opini, dan statemen-statemen dari para pakar - kerap
menyajikan rasionalisasi-rasionalisasi yang berasaskan pada ideologi media
pengusung. Seringkali kita dihadapkan pada sebuah isu, misalnya tentang islam, ada
media yang anti-islam kemudian dengan wacana-wacananya ia membangun stigma
negatif tentang islam, kemudian bagi media yang islamis, stigma tersebut mesti
dilawan dengan menghadirkan wacana-wacana yang lurus dan berimbang. Tak hanya
itu, media sebagai senjata ideologi akan berusaha membangun masyarakat yang
terideologisasi secara tandzimi (senyap).
Pada akhirnya terbentuklah masyarakat yang hagemonik,
yang dipengaruhi oleh arus opini/wacana yang beredar.
Tujuan
akhir
Kemenangan
gerakan terletak pada seberapa besar dukungan publik. Membangun keberpihakan
publik memerlukan jangka waktu yang lama dan membutuhkan media konvektor (penghantar).
Budaya literasi dan diskusi seharusnya kembali mengisi hari-hari aktivis,
sembari terus “berkoar” memberi perincian logis tentang situasi sosial-politik
saat ini.
Jika
tujuan akhir kita adalah reformasi, maka tak ada jalan lain selain bergerak.
Namun jika tujuan akhirnya adalah perbaikan, maka tugas kita terus dan tetaplah
setia untuk mengingatkan pemerintah - dengan apa yang kita tulis, yang kita
bagikan, yang kita orasikan, dan sebagainya. Tapi, adakah sebuah penawaran
untuk sebuah kehancuran?.
Saat
ini rakyat kembali menunggu keberadaan mahasiswa, menanti suara-suara lirih
yang risih itu kembali terdengar. Momentum ini akan kembali menunjukkan bahwa
kekuatan mahasiswa akan tetap berada pada khittah
pergerakannya. Agenda menyudahi Jokowi ini adalah agenda yang teramat penting
dalam abad ini. Sudah saatnya kita kembali memenuhi panggilan sejarah, lalu
membuat romansa baru untuk dikenang sebagai titik balik perubahan dan
kebangkitan bangsa.
Pada
akhirnya, ketika suara kritik sudah tidak didengar, aspirasi terabaikan, dan kekacauan
semakin menjadi-jadi. Maka hanya ada satu kata: LAWAN!.[]
*****
*Esai Pemantik Diskusi Progressif KAMMI IAIN RIL
*Penulis saat
ini adalah Kadep Kebijakan Publik KAMMI BandarLampung. Berbagai tulisannya bisa
disimak di kompasiana.com/ahmadrisani | kamwillampung.blogspot.com
| dakwatuna.com | FB: AhmadRisani, Twitter: @RisaniAhmad | BBm: 75A48A6F | WA: 085789777003
