Kiprah Wanita dalam KAMMI
https://kamwillampung.blogspot.com/2015/04/kiprah-wanita-dalam-kammi.html
Kiprah Wanita dalam KAMMI
Devi Audina*
Pembicaran mengenai wanita dan kiprah pergerakannya memang menarik, terutama dalam konteks ke-KAMMI-an. Posisi wanita (akhwat) sebagai aktivis adalah sesuatu yang kerap diperbincangkan, terutama saat refleksi hari Kartini atau hari-hari perempuan lainnya. Seolah tak ada habisnya memperbincangkan kedudukan wanita dalam koridor pergerakan, padahal dalam islam sendiri, tidak ada irisan yang memisahkan antara peran laki-laki dan perempuan. Karena fitrahnya, manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi tanpa tersekat dalam paradigma gender.
Kedudukan Wanita dan Pria dalam perspektif Islam
Ketahuilah saudara ku, Allah Swt telah memilih Lelaki dan Perempuan untuk mensejahterakan muka bumi. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam”(QS. Al-Israa’ [17]:70). Dari ayat ini bisa kita fahami bahwa Allah memuliakan manusia dengan apapun jenis gendernya.
Allah swt berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujuraat [49]:13)
Dalam ayat ini kita fahami bersama bahwa kedudukan wanita dan lelaki sama disisi Allah Swt, adapun yang membedakannya adalah Amal dan ketakwaan nya.
Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl [16]:97)
Namun, Wanita kerap kali dijadikan sebab ketika “fitnah” antara wanita dan lelaki itu muncul. Slogan “Wanita Racun Dunia”, “Pilih Madu Atau Racun”, “Wanita serupa Ular (Ramayana), padahal belum tentu seutuhnya merupakan kesalahan wanita. Lantas dimanakah kedudukan lelaki terkait hal ini. Dan sungguh Allah Swt tidak pilih memilih agar tertunainya kewajiban sang hamba.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur [24]:30)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur [24]:31)
Dalam kedua ayat An-nur beruntun di atas, dapat disimpulkan bahwa; tingkat menjaga kehormatan pada kedua nya adalah seimbang. Jika selama ini hanya wanita yang seharusnya menjaga pandangan, maka lelakipun sepatut nya demikian. Jika wanita yang terkesan perlu menjaga kehormatan aurat nya, maka para lelaki pun sepatutnya demikian. Dan jika hanya wanita yang tidak diperuntukkan menebar kecantikan nya dalam sarana apapun, maka sudah sepantas nya Kaum lelaki pun demikian. “Adil Bukan?” karena syetan tidak mendekati kaum lelaki saja untuk membisikkan hal munkar atas Perkara wanita, tetapi wanita juga menjadi sasara syetan atas tindak tanduk lelaki.
Sehingga, bertemulah kita pada sebuah kesimpulan bahwa kedudukan wanita dan lelaki sama disisi allah swt. Hanya saja wanita dan lelaki memiliki hak dan kewajiban berbeda saat tengah berkeluarga.
Dalam tulisan ini, penulis insya allah akan focus pada pembahasan Kiprah Wanita yang “single” di KAMMI, Karena Akhwat (wanita) Produktif di Komisariat - dan seterusnya - mayoritas merupakan Akhwat yang belum berkeluarga.
Seperti yang sudah dipaparkan di atas, bahwa Wanita dan Lelaki memiliki hak/ kewajiban yang sama di beberapa hal;
Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi tiap Muslim dan Muslimah.” (Ikhwan Hakimi, Al-Hayat, terjemahan Ahmad Aram, jil 1, hal. 296.)
Pada kesempatan kali ini, penulis limitkan pembahasan pada keilmuan Wanita dan kiprahnya menggerakkan Wajihah KAMMI.
Kiprah Wanita Di KAMMI
Akhwat KAMMI sering disebut “Akhwat Tangguh” oleh beberapa sahabat KAMMI. Entah hal ini merupakan stimulus atau keberharapan yunda-yunda pada adik nya. ketika diklarifikasi; “Pokoknya Akhwat KAMMI harus bisa mengerjakan pekerjaan Ikhwan; ganti gas yang habis, masang lampu, naik motor, perbaiki kabel rusak, sampai benerin genteng, pokoknya hal-hal teknis yang ikhwan bisa lakukan, harus pula bisa dilakoni akhwat.” Itu penutur salah satu yunda ketika penulis berusia pemula di KAMMI. Hmmm, dikira kuli kali ya hee.
Namun, Kiprah Wanita di KAMMI tidak cukup bermodalkan hal di atas, karena KAMMI memiliki sekup Dakwah yang besar; sebagai konteks gerakan kemahasiswaan, konteks kebangsaan, konteks keumatan.
Penulis mencoba berijtihad, Kriteria yang penting dimiliki akhwat KAMMI:
Pertama, Akhwat KAMMI penting memiliki Ketakwaan yang mapan
Sebagai gerakan dakwah tauhid, penting bagi setiap kader nya, terutama akhwat KAMMI bertransformasi menjadi Akhwat yang memiliki ketakwaan pada allah swt. Dengan menggenggam erat segala ibadah dan syariat. Kelak akan tumbuh mujahid- mujahid atas sentuhan akhwat-akhwat yang memiliki ketakwaan pada allah swt. Tidak hanya itu, di manapun sentuhan akhwat yang bergelar daiyah adalah cikal bakal masyarakat yang islami.
Kedua, Akhwat KAMMI penting memiliki wawasan yang luas
Dengan menyandang gerakan intelektual profetik, kader KAMMI terkhusus akhwat perlu membangun dan menumbuhkan fikrah wawasannya yang luas. Sebagaimana ditafsir dalam issue kontemporer, suatu Lebel akan membuat keseragaman dalam wawasan dan cara memandang sesuatu. Akibat negatifnya membuat kader yang ada dalam lebel tersebut tidak berkembang kecuali atas kehendak lebelnya. Namun, seharusnya tidak dengan kader KAMMI khususnya Akhwat; meminjam istilah Said Hawa dalam mensucikan jiwa “Ilmu adalah barang milik kaum muslimin yang hilang, maka kaum muslimin harus memungutnya dimanapun ia ditemukan.” Maka penting bagi akhwat KAMMI untuk menggali ilmu dimanapun dan dengan sarana apapun.
Allah swt berfirman: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadalah [58]:11)
Ketiga, Akhwat KAMMI penting bertransformasi militan
“Kader Militan itu apa mba?” Tanya seorang akhwat. Militan disadur dari istilah militansi yang artinya merupakan; istiqamah dijalan allah dengan memiliki; Jiddiyah (Kesungguhan), Hamasah (Semangat), dawabit (Disiplin), komitmen (Memegang komitmen), Konsisten (Khusnul Khotimah). Jadi kader militan merupakan kader dengan dengan indeks Jiddiyah, Hamasah, Dawabit, komitmen, dan konsisten. Tentunya kerja-kerja lapangan adalah bentuk penerjemahan terkecil dari hal ini.
Kempat, AKhwat KAMMI penting memiliki Cita-Cita/ Visioner
Tidak hanya kerja yang baik, hasil sesuai progja. Harapannya kader KAMMI terkhusus akhwat memiliki “Cita- Cita atau Visi” mau dibawa kemana KAMMI dan keberadaan nya untuk islam dan umat manusia jika kerja-kerja kader hanya mengurusi kerja seremonial belaka (yang penting terlaksana, LPJ bisa). “Saat antum bekerja untuk KAMMI hari ini, Maka KAMMI akan hidup Hari ini. Ketika Antum memikirkan KAMMI esok, sepuluh tahun yang akan datang. Maka KAMMI akan hidup di hari esok dan sepuluh tahun yang akan datang.” Maka dari itu, Gerak Akhwat KAMMI harus diimbangi dengan cita-cita/ tujuan akhir apa yang hendak dicapai.
Kelima, Akhwat KAMMI penting memiliki kerja-kerja yang berkelanjutan
Menurut Rijalul Imam (2012), “Tren gerakan mahasiswa kedepan yang perlu dibangun oleh KAMMI yaitu mengkombinasi antar gerakan mahasiswa: berbasis riset, berbasis kompetensi, dan bermental interpreneur.” Riset menjadi penting untuk mengembalikan jati diri mahasiswa sebagai insan intelektual, sedang kompetensi merupakan pengokohan kepribadian mahasiswa sebagai pemimpin muda yang siap berkiprah di masyarakat sesuai bidang kompetensinya. Lalu mental enterpreneur harus dibangun sebagai titik temu antara capaian ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan. Titik temunya adalah pembentukan karakter kepemimpinan yang mandiri, bertanggung jawab, siap mengambil risiko, siap bekerja sama, berkemauan keras, dan bekerja cerdas. Interpreneur juga diterjemahkan sebagai pembentukan mental pemimpin yang berorientasi pada nilai (value).
Selain hal di atas, begitu banyak agenda keakhwatan di KAMMI salah satu nya SPI (Sekolah Perempuan Indonesia) yang merupakan pembelajaran pada akhwat saat menduduki bangku perkuliahan. Kelak kerja-kerja seperti ini sangat dibutuhkan keberlanjutannya atas akhwat KAMMI sebagai bentuk abdi dan kebermanfaatan terhadap masyarakat. Khususnya Indonesia. Sehingga tidaklah wajar, jika tidak ditempatkan lagi dalam struktur pengurus, Akhwat KAMMI menjadi “bingung/ lupa” merasa “Finish” atau bahkan “Enggan” untuk menghadapi dunia dan menjadi problem solving atas realita masyrakat.
*Kader KAMMI
