Diskusi Hari Perempuan Internasional
https://kamwillampung.blogspot.com/2015/03/diskusi-hari-perempuan-internasional.html
Tepat Pukul 14.00 WIB diskusi memperingati hari perempuan
internasional dimulai. Diskusi yang berlangsung di sekretariat Kesatuan Mahasiswa
Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) di gagas oleh Gerakan Mahasiswa Peduli Aspirasi
Rakyat (GeMPAR) yang terdiri berbagai Organisasi Kemahasiswaan Pemuda (OKP). Diskusi
yang bertema “Kebangkitan Perempuan dari Penindasan dan Keterlibatan dalam Pembangunan
Bangsa” di fasilitatori oleh 3 orang panelis yaitu Risma Borthon selaku Ketua Eksekutif
LMND Bandar Lampung, Anastasya Ketua GMNI Kota Bandar Lampung, dan Candra
Cahyani Gani Sekertaris Departemen Ekonomi dan Sosial Masyarakat KAMMI Wilayah
Lampung.
Menurut Anastasya perempuan selama ini terjebak dalam
aktivitas domestiknya yaitu sumur, dapur, dan kasur, sehingga
peran perempuan selalu di nomorduakan dan permaslahan seperti KDRT, human trafficking,
dan eksploitasi TKI korbannya adalah perempuan. Padahal menurutnya perempuan
mempunyai hak dan peluang yang sama dalam hal mengembangkan potensi yang
dimiliki untuk berkarya. Oleh karenanya keberadaan perempuan juga harus dilindungi serta dipenuhi hak-haknya.
Risma Borthon menambahkan dalam problematika kontemporer
dimana ekonomi kapitalis mendominasi perempuan hanya dijadikan sebuah objek
pasar. Perempuan seharusnya diberikan ruang yang sama dalam kontribusinya membangun
bangsa bukan hanya sekedar pemanis sebuah iklan akan tetapi juga sebagai subjek
pembangunan.
Sedangkan menurut Candra Cahyani Gani dalam menanggapai
permasalahan perempuan di Indonesia pemerintah memiliki andil besar dalam
menyelesaikan permasalahan ini. Pemerintah seharusnya dapat mengakomodir dan
melibatkan peran perempuan dalam membangun ketahanan ekonomi kreatif baru
berbasis rumah tangga. Jumlah perempuan di Indonesia yang mencapai lebih dari
60% dari pada laki-laki seharusnya menjadi potensi dengan mengembangkan ekonomi
kreatif berbasis rumahan. Hal tersebut juga menjawab kekhawatiran peran perempuan
yang menjadi guru pertama bagi anaknya, yang selama ini menjadi catatan
tersendiri. Yaitu kelalalian tugas orang tua dalam mendampingi pertumbuhan
anaknya, sehingga menjerumuskan generasi muda dalam pergaulan bebas, kecanduan
obat-obatan terlarang, serta hal negatif lainnya yang menimpa generasi muda.
Menurut Candra Negara tetap dapat melihat keberadaan perempuan sebagai sebuah potensi dengan mengakomodir karyanya akan tetapi juga
tidak meninggalkan tanggungjawabnya sebagai seorang perempuan. Upaya ini juga
sekaligus meminimalisir eksploitasi terhadap perempuan dengan menjadikan TKI yang
mayoritas perempuan sebagai penyumbang devisa Negara terbesar. Gagasan tersebut
menjadi alternatif sumbangsih perempuan dalam membangun ketahanan ekonomi tanpa
meninggalkan kodratnya sebagai perempuan.
