Jangan Bermimpi di Akhir yang Sama, Jika Masih Biasa Saja
https://kamwillampung.blogspot.com/2015/03/jangan-bermimpi-di-akhir-yang-sama-jika.html
Ruhul istijabah adalah bersegera dalam menyambut seruan Allaah. Hal ini sangat penting bagi pengaku aktivis dakwah. Kenapa? Kalangan aktivis dakwah adalah kalangan yang banyak sekali mengungkapkan kerinduan untuk bersua dengan para syuhada’ di surga, para sahabat dan Rasulullaah SAW. Konsekuensi dari ungkapan-ungkapan tersebut adalah mengikuti jejak mereka. Jangan bermimpi mendapatkan surga yang sama sementara enggan untuk melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Prinsip-prinsip yang dijunjung para inspirator islamisasi tersebut menjadi hal yang tak aneh untuk terjadi di masa sekarang, bukankah Islam itu bukan hanya untuk orang-orang terdahulu saja? Diantara rahasia sampainya mereka hingga surga adalah kesungguhannya dalam ruhul istijabah. Tulisan ini bertujuan mengungkapkan ruhul istijabah secara spesifik agar lebih mudah dipahami dari sekedar tema yang menghiasi pamflet yang sempat mampir di notifikasi facebook.
Ruhul istijabah dilihat dari konteksnya terdiri dari beberapa aspek, diantaranya:
1. Istijabah fikiran, bersegera dalam menyembut panggilan Allaah dengan penuh kesadaran. Kisah Ibnu Maktum melampaui cukup untuk dijadikan contoh dalam konteks ini. Beliau tidak dikenal kecuali sebagai kakek tua nan buta, datang dan bertanya kepada Rasulullaah “bolehkah daku yang buta ini melakukan sholat berjama’ah yaa Rasulullaah?”. Pantulan cahaya semangat dalam diri seorang yang ingin menaati Allaah sementara kelemahan begitu lekat padanya, tak membuatnya mengampuni diri untuk lalai. Rukshah kemudian wajib menjadi dua jawaban berganti yang beliau dapatkan dari keberanian bertanya itu. Semangat menggelegarkan kawah candra dimuka, menurunkan Iblis simbol kesombongan untuk menuntun tangan Ibnu Maktum menuju masjid, disebabkan Allaah menghargai terpelesetnya diri yang buta dalam perjalanan sholat berjama’ah di masjid.
1. Istijabah fikiran, bersegera dalam menyembut panggilan Allaah dengan penuh kesadaran. Kisah Ibnu Maktum melampaui cukup untuk dijadikan contoh dalam konteks ini. Beliau tidak dikenal kecuali sebagai kakek tua nan buta, datang dan bertanya kepada Rasulullaah “bolehkah daku yang buta ini melakukan sholat berjama’ah yaa Rasulullaah?”. Pantulan cahaya semangat dalam diri seorang yang ingin menaati Allaah sementara kelemahan begitu lekat padanya, tak membuatnya mengampuni diri untuk lalai. Rukshah kemudian wajib menjadi dua jawaban berganti yang beliau dapatkan dari keberanian bertanya itu. Semangat menggelegarkan kawah candra dimuka, menurunkan Iblis simbol kesombongan untuk menuntun tangan Ibnu Maktum menuju masjid, disebabkan Allaah menghargai terpelesetnya diri yang buta dalam perjalanan sholat berjama’ah di masjid.
Tua dan buta namun tak lengah dalam memenuhi anjuran berjama’ah di masjid. Binar-binar kisahnya menghangatkan hati pengaku aktivis yang makin nyenyak dalam hangat selimut di kala adzan subuh berkumandang. Sebuah tanya untuk menaati Allaah yang menghangatkan hati pengaku aktivis yang senantiasa mengamankan diri dalam rukshah untuk tidak memenuhi panggilan sementara mungkin saudaranya beralasan jauh lebih syar’i untuk tidak memenuhi panggilan namun datang jua. Sadar. Sebuah kunci tak punya maaf untuk kelalaian. Semoga Allaah senantiasa mengampuni dosa-dosa Ibnu Maktum, inspirator islamisasi sepanjang kisah kehidupan manusia setelahnya.
2. Istijabah nafsiah, menyambut seruan Allaah dengan perasaan apapun. Hasan Al Banna, seorang ulama’ kontemporer, semoga Allaah menempatkannya sebagai syuhada bersama Rasulullaah SAW, kekasihNya di surga, di saat hendak menyampaikan khutbah mendapat khabar kematian buah hatinya. Komitmen dalam menghamba, meneruskannya melanjutkan khutbah, menomor duakan pulang melihat anaknya. Sungguh menghangatkan hati yang sering moody dalam menunaikan tugasnya sebagai manusia mulia. Beraktivitas sebagai aktivis hanya ketika hati menyeruak senang, dan menjauhi aktivitas aktivis kala berbalik hati disambar gundah. Na’udzubillaah
3. Istijabah maliyah, menyambut seruan Allaah dengan harta yang dimiliki. “seluruh hartaku yaa Rasulullaah akan aku sumbangkan untuk perang ini” ungkap Abu Bakar yang menerbitkan cemburu pada Umar Bin Khattab, sebelumnya telah lebih dahulu menyumbangkan sebgaian hartanya. Abdurrahman Ibn ‘Auf yang semakin mengeluarkan hartanya untuk Islam semakin bertambah kaya, sesampai Rasulullaah mengabarkan segenggam kurma sedekah Abdurrahman Ibn ‘Auf tak sebanding dengan sedekah yang lainnya meski itu emas sebesar Gunung Uhud. Fenomena yang tentu tak akan langka, karena sewajarnya terjadi jika digugu oleh para perindu surga..
4. Istijabah harokiyah, menyambut seruan Allaah dengan bergerak. Mu’adz bin jabal yang senantiasa ditangisi para dermawan di masa sahabat terutama pasca Futuh Makkah. Menjemput cinta RobbNya terlebih dahulu melampaui Muhajirin yang lain. Hanzalah, seorang pengantin yang jasadnya dimandikan malaikat dalam kesyahidan. Mereka adalah inspirator ruhul isjabah itu...
“semoga Allaah menambahkan hidayahNya kepada kita... menolong kita untuk bersegera dalam kebaikan... sungguh tak kita lihat satu sebabpun yang memungkin kita bersama disini dalam proses yang rumit dari sebab oleh kelebihan, kekuatan, keistimewaan kita melainkan hanya karena kasih Allaah semata”
“Ini untuk aku, semoga kamu bisa numpang berhikmah dari nasihat aku pada diriku”
Oleh
Delia Sati
#KAMM1Juara
